Powered By Blogger

Hit Counter (jumlah pembaca)

Kamis, 20 Mei 2010

crita..

halo . . . . saia sang peng copas mo copas cerpen nih... heheeh

Bilakah Aku Mampu Bersabar

Selasa. Pagi. Saat mentari kembali menertawakan bumi.

Aku bergegas pergi ke sekolah untuk mengambil ijazah. Sabtu kemarin punya teman-temanku sebagian sudah diambil. Ada yang tinggi, pun juga ada yang rendah. Inilah hikmah. Sebuah perbedaan yang tidak akan pernah berakhir. Perbedaan yang tidak mengenal kasta, tidak mengenal rupa, tidak mengenal bentuk, tidak mengenal wujud. Ia akan selalu ada di mana saja. Kapan saja.

Entahlah, semakin aku mengingat nilai ijazah teman-temanku, semakin kuat pula rasa penasaranku untuk melihat nilai ijazahku sendiri. Seperti apakah nilainya. Puaskah aku menerima hasilnya. Atau jangan-jangan… Aku malah kecewa dan tidak sabar menerima semuanya. Suaraku membatin.

Seperti biasa, aku naik mobil angkotan. Sekitar satu jam aku sampai di persimpangan jalan. Di sana aku turun dan langsung berjalan menuju sekolah. Sesampainya di halaman depan sekolah aku bertemu dengan guru agama. Kuberi salam, lalu kucium tangannya. “Nak. Kamu kalau bertemu dengan para ulama, kiyai, juga guru kamu, baik di sekolah, di tempat pengajian ataupun di mana saja. Ciumlah tangan mereka. Jangan lupa ya, Nak! Cium. Karena mencium tangan mereka sama halnya kamu mencium tangan Nabi.” Ya. Seperti itulah mendiang Abah selalu mengingatkanku sebelum aku berangkat sekolah. Setiap hari.

Sejenak aku diajak ngobrol oleh guru agama itu.

“Dek Wafie… Menurut Adek pantas gak agama islam itu dikatakan sebagai agama teroris?” Panggilan adek sudah biasa bagi semua siswa di sekolah ini. Guru yang satu ini memang terkenal sangat bersahabat, sopan, menghormati sesama, baik yang tua maupun yang muda. Dan anehnya, semua murid tidak diizinkan memanggil dirinya dengan sebutan ‘Bapak Guru’. Beliau lebih senang dipanggil mas.

“Yah, cukup mas saja!” Jawab beliau ketika baru masuk ke sekolah ini.

Sejak itulah aku dan teman-teman juga semua siswa di sini akrab dengan beliau dari pada guru lainnya yang kebanyakan sering menganggap dirinya lebih tahu, pintar dan mengerti. Nah, guru yang satu ini, tidak! Beliau selalu merendah diri. Ramah-tamah. Baik kepada murid, pun juga kepada sesama guru yang lain. Bijaksana.

“Loh, emang agama islam itu disebut-sebut sebagai agama teroris tah, mas!” Aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan guru agama tersebut. Karena sebelum-sebelumnya aku tidak pernah mendengar orang mengatakan agama islam itu adalah agama teroris. Baru sekarang. Saat ini.

“Eh, adek gak tahu ya. Kemarin saya baca buku yang di dalamnya disebutkan, bahwa agama islam itu adalah agama teroris. Agama yang ingin merusak, menghancurkan dan memberantas agama lain.” Jawabnya.

Entahlah, aku tidak langsung menimpali penjelasan tersebut. Aku masih bingung. Merasa aneh. Sejenak aku berpikir, apakah benar agama islam telah menjadi agama teroris bagi agama-agama lain. Ataukah agama lain yang berwajah teroris bagi agama islam. Ah, tahulah. Aku masih kaku menafsirkan kebenaran dan kenyataan itu.

Sejurus kemudian, guru agama yang berdiri di dekatku berkata lagi.

“Nah, penyebab timbulnya argumen, bahwa agama islam itu teroris dititik beratkan kepada ulah para penganut islam itu sendiri, Dek! Seperti Imam Samudra, Amrozi, dkk. Terus juga ketika gedung WTC di Amerika runtuh, katanya diprakarsai oleh Osama Bin Laden. Makanya waktu itu Osama diincar oleh pasukan Amerika, bahkan diumumkan keseluruh dunia; barang siapa yang menemukan Osama hidup ataupun mati, maka akan dibayar dengan ribuan juta dollar.” Sambungnya.

Kali ini. Tanpa berpikir panjang aku langsung menimpali ungkapannya. Mungkin juga aku marah. Atau tidak terima karena agamaku sendiri “islam” disebut bahkan dikutuk seperti itu.

“Terus… Mas percaya?” Suaraku agak keras.

Beliau sedikit terperanjat mendengar pertanyaanku itu. Kemudian dengan khas senyumnya beliau pun menjawab.

“Percaya atau tidaknya itu kan tergantung bagaimana kita bisa melihat dan menemukan kenyataan yang sebenarnya, Dek! Kalau ternyata apa yang saya baca itu salah. Iya kenapa toh kita harus percaya, mungkin saja agama lain ingin menjelek-jelekkan agama kita. Dan kalau pun benar, nah ini yang seharusnya perlu kita re-interpretasi. Perlu kita pertanyakan kembali. Mengapa saudara-saudara kita berani melakukan tindakan konyol. Atas dasar apa mereka bertindak seperti itu. Bukankah tindakannya malah akan membawa nama jelek agamanya sendiri, yaitu; islam.” Jelasnya.

“Iya. Iyah! Aku sejutu ucapkan mas itu. Tapi apakah kita akan terus berdiam diri. Tutup mulut. Bungkam. Jika kabar tersebut sudah merajalela. Kan nantinya, malah agama kita (islam) yang dijadikan objek kambing hitam agama mereka. Khususnya agama selain islam.”

Sebentar beliau diam. Tidak langsung menjawab pertanyaanku. Apakah beliau sedang berpikir, atau mencari jawab yang pas. Aku tidak tahu!

Dan kemudian, beliau pun menjawabnya dengan bijak. “Dek,” dengan lembut beliau memulai ucapannya. “Rasulullah adalah panutan dan suri tauladan yang patut kita contoh. Dulu, ketika Beliau menyebarkan agama islam tidak hanya gunjingan, ejekan, cacian-maki dan umpatan yang sering Beliau peroleh. Bahkan orang-orang kafir sering meludahi Beliau ketika sedang berfatwa, terkadang pula lemparan batu-batu kasar yang harus Beliau terima. Tapi apa, sedikit pun Beliau tidak pernah marah, apalagi sampai membenci orang-orang kafir tersebut. Beliau tetap tersenyum. Dan, Beliau tidak pernah membalas gunjingan, ejekan, caci-makian, umpatan, ludahan, serta lemparan batu-batu kasar yang melukai kulitnya. Tidak!!! Beliau tidak pernah membalasnya. Secuil pun, tidak pernah. Beliau justru bersabar dan tabah menghadapinya. Yah, Beliau hanya berserah diri kepada Allah mengenai perbuatan umatnya kala itu. Bahkan Beliau mendoakan umatnya agar dibukakan pintu hatinya dan kembali ke jalan yang terang. Aqidah yang benar.” Lanjutnya panjang lebar.

Sejenak guru agama itu berhenti. Lalu sekejab kemudian beliau meneruskannya lagi.

“Tahukah kamu, Dek! Ketika Baginda Nabi hendak meninggalkan kita semua. Apa pesan terakhir Beliau kepada sahabat Ali; ‘Ummati… Ummati… Ummati…’ Yah, begitulah Nabi kita mengulang-ulang pesannya yang sangat agung itu. Sampai tiga kali.”

“Terus… Apa hubungannya dengan perkataan mas tadi?” Dasar bego! Kenapa harus pertanyaan itu yang keluar dari mulutku. Bodoh… Goblok… Pergulatan batinku sedang bertempur dengan sifat keegoisan diri. Sepertinya, kesabaranku sudah mulai menipis. Suasana menjadi tegang seketika.

Tapi untunglah, beliau orangnya cukup bijak dan pengertian. Sehingga tidak perlu heran dengan pertanyaan dan ulahku yang bodoh itu. Dengan senyum khasnya beliau kembali mengajakku tenang. Damai. Dan, setelah suasana terasa nyaman, beliau pun bertutur dengan nada yang cukup lembut. Halus.

“Dek Wafie… Saya tidak bermaksud menghubung-hubungkan apalagi mencampur-aduk peristiwa di masa Rasul dengan peristiwa yang sering terjadi sekarang ini. Tapi yang saya inginkan dari perkataan tadi adalah; biar Adek tahu pentingnya kesabaran itu sendiri. Kesabaran yang telah dititahkan oleh Baginda Nabi. Bahwa kesabaran merupakan kunci ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dan dengan kesabaran itu pula kita akan meraih kemenangan hakiki. Kemenangan yang direstui sang Ilahi.” Sejenak beliau berhenti. Menghela nafas tinggi-tinggi. Kemudian…

“Jadi, Adek gak perlu pusing memikirkan kejadian-kejadian yang sering menimpa agama kita. Mulai dari jargon agama teroris sampai kepada Al-Qur’an yang sering disalah artikan. Seandainya seluruh jagat raya dan isinya berteriak tentang agama islam yang teroris, kandungan isi Al-Qur’an perkataan Muhammad belaka, dan sebagainya itu. Biarkan saja! Cukuplah, Adek sabar menghadapinya. Layaknya Rasulullah ketika menghadapi umatnya. Yang terpenting dari yang paling penting adalah, Adek tetap yakin dan percaya bahwa agama islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Dan Al-Qur’an adalah kalamullah yang abadi. Nah, dengan bersikap seperti itu sudah cukup. Tidak perlu membalas sebuah kebencian dengan kebencian pula. Itu tidak baik, Dek! Bukankah Allah akan melihat dan menyaksikan seberapa besar nilai kesabaran seorang hamba-Nya ketika dihadapkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Benarkah, kita umat Muhammad sejati ataukah malah umat Fir’aun hakiki.”

Entahlah, aku kembali terdiam ketika beliau menerangkan makna kesabaran itu. Sungguh, aku tidak bisa berucap barang sedikit pun. Laiknya seorang prajurit yang ditegur oleh rajanya. Ia hanya bisa diam. Tanpa sepatah kata. Tertunduk. Dan patuh.

Melihatku seperti itu, akhirnya beliau mengangkat suara lagi. “Dek Wafie, kiranya cukup di sini dulu obrolan kita. Sekarang saya harus mengajar. Dan, Adek harus belajar. Ok?! Assalamu ‘alaikum…” Kemudian beliau beranjak pergi meninggalkanku sendiri.

Dalam diam aku melihat kepergiannya. Jalannya segagah mendiang Abah. Kata-katanya sebijak mendiang Abah. Sifatnya sesopan mendiang Abah. Semuanya tak ada yang beda. Sama. Dalam diam pun aku menjawab salamnya. “Wa’alaikum salam…”

Tak terasa sudah dua jam berlalu. Aku dan beliau berdiri di tempat ini sejak tadi. Sejak mentari menertawai seluruh isi bumi. Sekarang matahari berada di atasku. Menyengat ubun-ubun kepalaku. Merambah sekujur tubuh. Keringat pun sedikit demi sedikit mengucur membasahi seragam sekolahku.

Di ruang guru, teman-teman pada berebutan menerima ijazahnya. Ada yang ceria, pun juga ada yang sedih. Entahlah, apakah karena nilainya tinggi atau malah sebaliknya. Dan tiba-tiba… Guru yang membagi-bagikan kertas ijazah itu menyebut namaku. “Wafie.”

Aku tersentak. Perasaan masih gamang. Tanpa larut dalam lamunan, aku pergi menghampirinya. Kuambil selembar kertas ijazah itu. Dan seperti biasa, kucium tangannya. “Nak. Kamu kalau bertemu dengan para ulama, kiyai, juga guru kamu, baik di sekolah, di tempat pengajian ataupun di mana saja. Ciumlah tangan mereka. Jangan lupa ya, Nak! Cium. Karena mencium tangan mereka sama halnya kamu mencium tangan Nabi.” Ya. Seperti itulah mendiang Abah selalu mengingatkanku sebelum aku berangkat sekolah. Setiap hari.

Entahlah, setiap aku bertemu dengan orang-orang yang kuhormati, pesan itu selalu mengiang di telingaku. Seolah-olah mendiang Abah datang menghampiriku seraya berucap lirih kepadaku. Lembut. Dan halus. Selembut permadani. Sehalus sutera.

“Abah… Lihatlah anakmu sekarang. Akhirnya, selama tiga tahun lamanya anakmu memperoleh juga selembar kertas ijazah sekolah.” Kataku menatap langit yang cerah. Dengan senyum gembira.

“Berapa nilai ijazahmu, duhai anakku.” Suara itu datang entah dari mana. Tapi aku mendengarnya. Cukup jelas. Seperti suara manusia. Aku menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Tapi, tidak ada seorang pun di sana.

“Benarkah itu suaramu, Abah?” Tanyaku heran.

Dan… “Berapa nilai ijazahmu, duhai anakku.” Kembali suara itu terdengar di telingaku. Jelas sekali.

“Benarkah itu, Abah!” Gumamku. Tidak mungkin, Abah telah meninggal. Masak iya, orang yang sudah mati bisa bicara dengan orang yang masih hidup. Tapi, suara itu…

Dan seketika. “Berapa nilai ijazahmu, duhai anakku.” Lagi. Lagi. Dan lagi. Suara itu sudah tiga kali terdengar sangat jelas di gendang telingaku. Saat itu juga aku yakin, bahwa itu suara Abah. Siapa lagi kalau bukan Abah. Kemudian, tanpa berpikir panjang aku langsung menyimak dengan seksama semua nilai yang tertulis dalam ijazahku.

Mataku terbelalak. Nanar. Kakiku mengambang. Lentur.

Lihat. Nilai ijazahku semuanya rata-rata 5,86. Tidak lebih. Pun juga tidak kurang.

Tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Mengucur deras. Dan, tangis pun tumpah di sudut sekolah. Badanku menjadi lemas seketika. Tak bertenaga. Tubuhku terkulai. Roboh. Tak sadarkan diri.

Dan, tiba-tiba dalam gelap aku melihat cahaya. Cahaya itu menghampiriku. Makin dekat. Dekat. Dan dekat. Entahlah, siapakah gerangan cahaya itu. Malaikat-kah, Jin-kah, Setan-kah atau Abah-kah. Aku tidak tahu! Yang kutahu, cahaya itu berkata kepadaku;

“Duh, Nak! Bukankah gurumu telah mengajarkan pentingnya sifat kesabaran dalam menghadapi dan menerima cobaan. Tapi kenapa kamu kok malah bersedih. Apakah kamu tidak ikhlas merima nilai yang diperoleh dari hasil kerjamu sendiri. Nak… Sebagai manusia mestinya kamu harus sabar. Kuulangi, sabar. Karena hanya dengan bersabar itulah Allah akan melihatmu tersenyum bangga. Ya. Tersenyum bangga, Nak!”

Setelah berkata demikian, cahaya itu pergi meniggalkanku. Makin jauh. Jauh. Dan jauh. Hingga lenyaplah di ujung kelopak mataku.

Dan, aku hanya bisa termangu.

Rabu, 19 Mei 2010

info bagi pengguna mozzila

nih ada tips buat hack mozilla firefox biar ngebut...

1. Buka Mozilla.

2. Ketikan di address bar "about:config" (tanpa tanda patik).

3. Scroll mouse anda kebawah dan cari "network.http.max-connections", double klik dan masukan nilai "64".

4. Cari "network.http.max-connections-per-server", double klik dan masukan nilai "21".

5. Cari 'network.http.max-persistent-connections-per-server", double klik dan masukan nilai "8".

6. Double klik pada "network.http.pipelining " menjadi "true".

7. Cari "network.http.pipelining.maxrequests", double klik dan masukan nilai "100".

8. Double klik pada "network.http.proxy.pipelining" menjadi "true".

9. Langkah terakhir, klik kanan dimana saja pilih : New >> integrar >> lalu tulis "nglayout.initialpaint.delay" (tanpa tanda petik". Kemudian masukan nilai "0".

sumber : blogspot org ...
integrar mungkin integer... ok.. lmayan nmbah da

Senin, 17 Mei 2010

Penjelasan lbh lanjut : Yahushua / Mesias ??

Yahushua is the true name of the Messiah

***** Note that Joshua = Yoshua or Yahushua because there is no "J" sound in Hebrew. The letter "J" is only about 500 years old and isn't even found in the original 1611 King James version. (proof)

The purpose of this study is to demonstrate that the Messiah's name never was "Jesus" and that the name "Jesus" is actually an invention of man.

In the King James Version of the scriptures, we find an interesting problem in its translation:

Acts 7:44(KJV) Our fathers had the tabernacle of witness in the wilderness, as he had appointed, speaking unto Moses, that he should make it according to the fashion that he had seen. 45 Which also our fathers that came after brought in with Jesus into the possession of the Gentiles, whom God drave out before the face of our fathers, unto the days of David;

Isn't this scripture referring to Joshua, son of Nun rather than the Savior? Yes. Here is another instance...

Hebr 4:7 (KJV) Again, he limiteth a certain day, saying in David, To day, after so long a time; as it is said, To day if ye will hear his voice, harden not your hearts. 8 For if Jesus had given them rest, then would he not afterward have spoken of another day.

Again, the context reveals that this scripture is referring to Joshua, the son of Nun and not the Messiah. All other translations put "Joshua" here. Why then is it translated 'Jesus'? The answer lies in the Greek/Latin corruption of the Messiah's original Hebrew name. Originally, the name of the Messiah was , pronounced Yahushua. This is the Messiah's original name. When the Gentiles tried to transliterate His name into Greek, they came up with ihsoun or "Iesous". But originally, this word was from #3091 in the Hebrew which is . When Iesous was transliterated into Latin, it became "Iesus", which was then carried over into English it became our modern day "Jesus" when the letter "J" developed.

Therefore, the reason the King James Version has "Jesus" in those two verses is because the Messiah's name is actually the same name as Joshua, Son of Nun... correctly pronounced "Yahushua". It is quite evident that the modern form "Jesus" doesn't even remotely resemble the original name that the disciples were praying in, baptizing in and receiving so much criticism for preaching in. This is fact. Do some research and see for yourself.
Secular References
Encyclopedia Americana:

"Jesus Christ--- ...Although Matthew (1:21) interprets the name originally Joshua, that is, 'Yahweh is Salvation,' and finds it specially appropriate for Jesus of Nazareth, it was a common one at that time." (Vol.16, p. 41)

Encyclopedia Britannica (15th ed.)

"Jesus Christ---...The same is true of the name Jesus. In the Septuagint it is the customary Greek form for the common Hebrew name Joshua;" (Vol. 10 p.149)

Religious Scholars
Barnes' notes: (Note on Matt. 1:21)

"His name is Jesus: The name Jesus is the same as Saviour. It is derived from the verb signifying to save. In Hebrew it is the same as Joshua. In two places [Acts 7:45 and Hebrews 4:8] in the New Testament it is used where is means Joshua, the leader of the Jews into Canaan, and in our translation the name Joshua should have been retained."

Word studies in the New Testament, by Marvin R. Vincent---

"Jesus. The Greek form of a Hebrew name, which had been borne by two illustrious individuals in former periods of the Jewish History --- Joshua, the successor of Moses, and Jeshua, the high priest, who with Zerubbabel took so active a part in the re-establishment of the civil and religious polity of the Jews in their return from Babylon. Its original and full form is Jehoshua, becoming by contraction Joshua or Jeshua."

The Acts of the Apostles, by Jackson and Lake

"Jesus--- This is the regular Greek translation of the Hebrew Joshua."

Smith's Bible Dictionary:

"Jesus Christ ---- The name Jesus means Savior, and was a common name, derived from the ancient Hebrew Jehoshua."

A dictionary of the Bible, by James Hastings

"Jesus -- The Greek form of the name Joshua or Jeshua. Jeshua ---- Yahweh is Salvation or Yahweh is opulence."

Alford's Greek New Testament, An Exegetical and Critical Commentary:

"Jesus -- The same name as Joshua, the former deliverer of Israel."

Encyclopedic Dictionary of Religion:

"Jesus (The Name) --- Matthew's gospel explains it as symbolic of His mission, 'For he will save His people from their sins.' This agrees with the popular meaning as 'Yahweh saves...' " p.1886

Catholic Encyclopedia:

"The Sacred Name ---- The word Jesus is the Latin form of the Greek "Iesous" which in turn is the transliteration of the Hebrew Jeshua, or Joshua, or again Jehoshua, meaning 'Jehovah is Salvation' " Vol. 8, p. 374

Interpreter's Bible: (Note on Matt. 1:21)

"Jesus: for He shall save: The play on words (Yeshua, Jesus; yoshia, shall save) is possible in Hebrew but not in Aramaic. The name Joshua means "Yahweh is salvation"

Matthew Henry's Commentary
(on Matthew 1:21)

"Jesus is the same name with Joshua, the termination only being changed, for the sake of conforming it to the greek."

Conclusion

It can be concluded then, that "Jesus" was not the Messiah's name when He walked the earth. That is the purpose of this study. For information on why we should use the Messiah's original name.

sumber:http://www.eliyah.com/nameson.htm

Paskah ??? bukan Easter !!



Paskah (bahasa Yunani: Πάσχα atau Paskha[1]) adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan[a], dan pada hari yang ketiga[b] bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.

Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah[2]) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)

Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: פסח atau Pesakh[1])[3][c] dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.

Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.

(wikipedia)

DARI SINI YG SAYA MAU TEKANKAN,
YAHUSHUA / MESIAS, tidak wafat Hari Jumat !! (katanya)
apakah benar Dia wafat hari Jum’at dan bangkit pada hari Minggu?

Orang-orang Kristen dan gereja-gereja banyak yang tidak tahu bahwa 'hari Paskah' yang mereka rayakan selama ini adalah hari raya berhala yang dinamakan Easter.


Kenyataannya Easter dirayakan ratusan tahun sebelum kelahiran Mesias dan menyusup ke gereja-gereja ...300 Tahun setelah Yahushua wafat dan bangkit.

Pada waktu itu Roma Katolik ingin meng’kristen’kan para penyembah berhala, dan menerima hari berhala ini untuk membuat mereka bahagia dan dihargai.

Ensiklopediapun mengakui dan dapat menerangkan lebih jelas mengenai Easter yang dicampur baurkan dengan Paskah.

Dalam ajaran Katolik dan tidak sedikit penganut Kristen menganggap telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu dimana Yahushua keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya.

Paus V, mengajak orang-orang berdoa pada hari Easter ini, dan memberkati telur tersebut atas peringatan kebangkitan Mesias, dan memakan telur tersebut, sama persis seperti perayaan berhala jaman dahulu di Persia dan Mesir.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa Mesias wafat pada hari Jumat Agung dan bangkit dari kematiannya pada pagi hari Minggu Paskah.

Kejadian sebenarnya,

Yahushua wafat sesaat sekitar pukul tiga sore, pada hari Rabu (Mat.27:46-50). Silakan baca: Yoh.19:31-33, Mark.15:42, Luk.21:23, dan Yoh.19:38-42.

Ada 12 jam dalam satu hari dan 12 jam dalam satu malam (Yoh 11:9-10) dan ini berarti tiga hari dan tiga malam sama dengan tujuh puluh dua jam. Yahushua dalam kuburan tiga hari dan tiga malam dan bangkit (Markus 8:31). Dia bangkit pada saat matahari terbenam hari Sabtu, tepat 3 hari dan 3 malam (72 jam) setelah Ia dikuburkan.

‘Easter’ berasal dari nama dewi musim semi. Tuhan dengan jelas menyatakan agar kita jangan menyebutkan nama tuhan/dewa lain. Ishtar, Isis, Ostara, Asyera, Diana, Venus, Semiramis ini semua adalah berhala-berhala yang masih disembah sampai sekarang. Mereka semua asalnya satu... dari Semiramis Babilonia, hanya diganti nama-namanya tergantung dari lokasinya.

Penyembah berhala sangat gembira menyambut musim semi, mereka melihat matahari bersinar, binatang-binatang berkembang biak, tanaman-tanaman tumbuh pesat.

aman Babilon dulu, (1500 sebelum Kristus lahir) mereka menyembah dan berterimakasih pada dewi Ishtar/Easter dan memberikan roti pada hari Jum’at pertama musim semi. Roti ini bersimbolkan salib (Tammuz cross), mereka sebutkan itu ‘boun’ maka sekarang kita sebutkan ‘hot cross bun’, dengan mudah kita temukan di supermarket sekitar bulan Maret dan April.

Yahushua wafat hari Rabu, dan diselewengkan dengan hari raya berhala, karena itu banyak orang merayakan Jum’at Agung?


Mereka juga mempersembahkan roti yang serupa pada ‘Ratu Sorga’, menyalakan api dan membakar roti, juga kemenyan (1 Raja 11:8, Yeremia 7:16-19,Yesaya 27:9).

Asyera cukup sering di sebut-sebut di perjanjian lama (2 Raja 13:6, Yesaya 17:8, Yeremia 17:2)

Asytoret adalah dewi Babilon, disebut di Hakim 2:11-13,1 Samuel 7:3. 1 Raja 11:5.

Ishtar, dewi Babilonia dan Semiramis ke duanya disebut Ratu sorga – ‘Queen of Heaven’. (Yeremia 7:18, Yeremia 44:19,25) dan ini Maria yang populer di ajaran Katolik.

Festival musim semi / Easter ini, jatuh tanggalnya hampir mirip dengan wafat dan kebangkitan Mesias. Kebangkitan Yahushua tidak ada hubungannya dengan telur dan kelinci.

Siapakah yang merayakan Easter sebenarnya sekarang ini?
Para penyihir, yang juga merayakan Halloween, Orang-orang Kristen dilarang merayakan hari-hari ini (Lukas 4:8, 1 Kor 10:20-22, Efesus 5:11). Tidak ada perayaan Easter di firman Tuhan, kecuali kesalahan ketik ‘Easter’ di Kis 12:4 (bahasa Inggris) yang seharusnya Passover/Paskah.

Penyembah berhala dan penyihir menganggap telur adalah jimat untuk kesuburan, kekayaan dan perlindungan. Kuning telur mereka anggap sebagai symbol dewa matahari, dan putih telur sebagai Dewi Putih.

Penganut agama Hindu mewarnai telur dengan warna emas, agama Shinto (Jepang) mempunyai patung telur (gb. kiri) yang dikuduskan dan ada juga terbuat dari kuningan. Di Cina, pada saat-saat yang sama mereka mewarnai telur dan memakannya pada saat menyembah dewa mereka. Di Mesir (gb. kanan) telur digantungkan di kuil mereka untuk permintaan mistik pada dewa mereka.
Kelinci adalah simbol kesuburan dan kehidupan baru (The Catholic Encyclopedia)

Tidakkah aneh, jika menghubungkan telur dengan penyaliban dan kebangkitan Mesias?
Bagaimana dengan Easter Sunday yang dipercayai sebagai hari kebangkitan Yahushua? Lagi-lagi orang-orang Kristen ditipu, hari Minggu ini dipercayai oleh penyembah berhala jaman dulu sebagai hari bangkitnya Tammuz. Dan Constantine menggantikan nama Ishtar menjadi Easter.

Masih bolehkah kita merayakan Easter?

1 Kor 10: 20

Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada TUHAN. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.

Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.


Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?

Hari paskah tidak ada hubungannya dengan kelinci maupun telur. Mari kita ingat wafat dan kebangkitan Mesias tanpa mencampurkan berhala dengan kebangkitan Tuhan kita.


Yoshua 24:14-15

Oleh sebab itu, takutlah akan YAHWEH dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah ilah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada YAHWEH.
Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada YAHWEH, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; ilah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau Tuhan orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada YAHWEH!"


Sumber: multiply

Sabtu, 15 Mei 2010

ada cerita..

gmn ??? info2nya sampai saat ini ? udh d cari2 mpe ke mana2 .. .
liat tuh youtubena (kiamat/doomsday).. ga bakalan nyesel..
hahaha kan mantab2 ? ?

yg pnting dngerin. . hayatin.. .
tp ga ush d pikirin yg gtu2 mah..
asal tetep dkat dgn Tuhan..

oh ya, nih.. crita..

Beberapa tahun yang lalu di sebuah musim panas di Florida bagian selatan. Seorang anak kecil memutuskan untuk pergi berenang di sebuah danau di belakang rumahnya. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar pintu belakang sambil melepaskan sepatu, kaus kaki dan kaosnya, terjun ke air yang dingin. Dia berenang dan berenang terus tanpa disadarinya bahwa dia sudah berada di tengah-tengah danau.

Bersamaan dengan itu, seekor buaya besar juga sedang berenang ke arah yang sama. Ibunya dari dalam rumah memandang ke arah jendela dan melihat anaknya dan buaya tersebut semakin lama semakin mendekat satu dengan yang lain. Dengan ketakutan yang luar biasa, dia berlari ke dekat pinggir danau tersebut sambil berteriak kepada anaknya dengan sekuat tenaga. Ketika mendengar teriakan ibunya, anaknya sadar dan berbalik berenang ke arah ibunya. Namun terlambat sudah ...

Buaya besar tersebut juga sudah berhasil menjangkau dia. Dari dermaga, ibu itu menggapai lengan anak lakinya bersamaan dengan buaya besar tersebut menyambar paha dari anaknya.Terjadilah tarik-menarik yang sangat mengerikan antara keduanya. Buaya besar tersebut jauh lebih kuat dari ibunya, namun demikian ibunya bertahan mati-matian untuk tidak menyerah dan membiarkan anaknya terlepas. Seorang petani yang kebetulan lewat di sekitar lokasi mendengar teriakan ibu tersebut, bergegas turun dari mobilnya dan menembak buaya besar itu.

Secara luar biasa setelah berminggu-minggu di rumah sakit, anak laki-laki tersebut berhasil diselamatkan dan disembuhkan. Pahanya penuh dengan bekas luka dari serangan buaya yang sangat ganas itu dan di bagian lengannya juga terdapat bekas luka cakaran dari kuku-kuku ibunya yang menancap pada daging lengannya sebagai usaha mempertahankan nyawa anaknya yang dikasihinya.

Setelah lewat masa-masa traumanya, seorang wartawan surat kabar yang mewawancarai anak laki-laki tersebut meminta dia untuk menunjukkan bekas luka-luka di pahanya. Anak tersebut kemudian mengangkat celananya, namun dia secara bangga juga berkata kepada si wartawan.. "Lihat bekas luka-luka di tanganku yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut" Ini terjadi karena ibu saya tidak pernah menyerah.. dan mau melepaskan aku.

Saudara dan saya dengan mudah dapat mengenali anak laki-laki tersebut. Kita semua punya bekas luka-luka, bukan dari gigitan buaya atau dari satu peristiwa yang sangat dramatis. Tetapi bekas luka-luka dari masa lalu yang sangat menyakitkan. Beberapa dari bekas luka-luka tersebut tidak dapat dikenali dari luar tapi menggoreskan penyesalan yang sangat dalam bagi kita. Namun, beberapa luka, saudaraku, adalah bekas-bekas luka karena Tuhan tidak mau menyerah atas kita ... Di tengah-tengah pergumulan anda, Dia terus bertahan untuk terus memegang anda.

Firman Tuhan berkata bahwa Allah mengasihi saudara. Bilamana Yesus Kristus ada di dalam kehidupan anda, anda menjadi anakNYA. Dia sangat rindu untuk memproteksi dan menyediakan kebutuhanmu dengan cara apapun juga. Tetapi seringkali kita secara bodoh melakukan perkara-perkara yang membahayakan diri kita sendiri. kehidupan selayaknya sebuah danau tempat kita berenang, danau yang dipenuhi berbagai bahaya dan kadang kala kita lupa bahwa musuh kita sedang menunggu untuk menyerang.

Ketika peristiwa tarik-menarik terjadi, berbahagialah bilamana anda memiliki bekas luka di lengan anda sebagai tanda kasihNya pada anda. Dia tidak pernah dan tidak akan sekali-kali menyerah dan membiarkan serta melepaskan anda pergi.....

Tuhan memberkati anda agar supaya anda dapat menjadi berkat bagi orang lain.